Finance & Investment
Vidio Bersiap Melantai di Bursa 2026, Potensi Valuasi Tembus Rp 15 Triliun Bakal Perkuat Posisi Grup Emtek

Ringkasan Artikel
- Vidio siap melantai di bursa pada 2026 dengan taksiran valuasi Rp 15 triliun
- Langkah strategis ini diprediksi mendongkrak nilai saham dan ekuitas Grup Emtek
- Penurunan suku bunga acuan akan menjadi momentum emas bagi kebangkitan sektor teknologi.
Grup Emtek dikabarkan tengah mempersiapkan langkah strategis besar berikutnya di pasar modal Indonesia. Setelah sukses mengantarkan Superbank (SUPA) melantai di bursa pada akhir 2025, konglomerasi media dan teknologi ini kini membidik tahun 2026 sebagai momentum untuk penawaran umum perdana saham (IPO) entitas digital andalan mereka, Vidio. Langkah ini dinilai sebagai kelanjutan dari strategi korporasi untuk memperkuat ekosistem digital di bawah naungan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).
Efek Domino bagi Grup Emtek
Rencana IPO ini mendapatkan sorotan positif dari para analis pasar modal. BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa kesuksesan IPO Superbank sebelumnya telah menciptakan sentimen positif atau 'IPO Effect' yang kuat di lingkungan grup. Pencatatan saham Vidio diprediksi akan menjadi katalis krusial untuk membuka nilai tersembunyi (unlocking value) dari aset digital EMTK, yang selama ini mungkin belum sepenuhnya terefleksi dalam harga saham induknya. Transparansi nilai aset ini diharapkan dapat memicu penilaian ulang (re-rating) oleh pasar terhadap valuasi EMTK secara keseluruhan.
Target Valuasi dan Indeks Global
Dengan estimasi valuasi mencapai Rp 14,96 triliun (sekitar US$ 945 juta) dan target pertumbuhan pelanggan hingga delapan juta pengguna dalam beberapa tahun ke depan, Vidio memiliki posisi tawar yang kuat. Masuknya Vidio ke bursa tidak hanya akan mengubah statusnya menjadi aset dengan nilai pasar yang nyata (mark-to-market) dalam buku EMTK, tetapi juga berpotensi mendongkrak kapitalisasi pasar induk usaha. Hal ini membuka peluang besar bagi saham EMTK untuk kembali masuk ke dalam indeks global bergengsi, seperti MSCI Indonesia, yang tentunya akan menarik minat aliran dana dari investor institusi asing.
Momentum Pemulihan Sektor Teknologi
Optimisme ini juga didukung oleh pandangan CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, yang melihat faktor makroekonomi tahun 2026 akan berpihak pada sektor teknologi. Dengan proyeksi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, investor diperkirakan akan kembali melirik instrumen investasi berisiko namun bervaluasi tinggi (growth stocks). Sebagai pemimpin pasar Over-The-Top (OTT) di tanah air, Vidio dinilai memiliki fundamental yang solid untuk menarik minat pasar di tengah tren pemulihan minat terhadap aset digital di kawasan Asia Tenggara.