AI & Technology
Survei TD Cowen: 92% Responden Sudah Pakai GenAI, Adopsi Autonomous AI Diprediksi Melonjak

Ringkasan Artikel
- Survei TD Cowen menunjukkan adopsi AI di perusahaan AS sudah sangat luas, tetapi monetisasinya baru mulai menguat
- Pergeseran dari AI berbasis prompt manusia ke autonomous AI berpotensi mengubah cara vendor software menjual produk, sekaligus mendorong kenaikan belanja AI di enterprise.
Riset terbaru TD Cowen menegaskan bahwa adopsi generative AI (GenAI) di perusahaan Amerika Serikat sudah masuk tahap massal. Dalam survei terhadap 689 responden di AS, 92% mengatakan mereka sudah menggunakan setidaknya satu dari tiga vendor teratas, dengan rata-rata sekitar 2,6 vendor AI agent—baik berbayar maupun gratis—dipakai per perusahaan.
Meski penggunaan sudah tinggi, TD Cowen menilai peluang monetisasi masih besar. Temuan utama survei menunjukkan 75% responden melaporkan ROI positif dari investasi AI, sementara hanya 3% yang mengaku rugi. Artinya, AI bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan mulai dipandang sebagai alat produktivitas yang nyata memberi hasil bisnis.
Autonomous AI Diproyeksikan Tumbuh Lebih dari Dua Kali Lipat
Salah satu poin paling penting dari survei ini adalah ekspektasi kenaikan adopsi AI semi-autonom dan autonomous AI dalam 12–18 bulan ke depan. TD Cowen menyebut adopsi teknologi yang lebih canggih ini diperkirakan akan naik lebih dari dua kali lipat, dengan tren yang juga diproyeksikan berlanjut hingga paruh kedua 2027.
Bagi dunia usaha, pergeseran ini berarti AI tidak lagi hanya dipakai sebagai alat bantu yang menunggu perintah manusia. Ke depan, AI mulai bergerak ke arah agentic automation, yakni sistem yang bisa menjalankan tugas lebih mandiri dan terintegrasi dengan proses kerja perusahaan. Perubahan ini berpotensi meningkatkan belanja software, terutama di lingkungan enterprise yang memiliki alur kerja kompleks dan data operasional yang luas.
Horizontal AI Punya Penggunaan Rendah, tetapi ROI Tertinggi
TD Cowen membagi AI ke dalam tiga kategori utama: Native AI, Horizontal AI, dan Neutral AI. Native AI biasanya tertanam di productivity suite dan dijual sebagai bagian dari lisensi software, sedangkan Horizontal AI adalah agen spesifik yang tertanam di platform enterprise horizontal. Neutral AI, di sisi lain, merupakan agen pihak ketiga yang vendor-neutral dan kuat dari sisi interoperabilitas.
Menariknya, Horizontal AI justru memiliki tingkat penggunaan terendah saat ini, hanya sekitar 15% secara keseluruhan. Namun, kategori ini dinilai memberi ROI tertinggi, terutama ketika kemampuan agentic AI yang sesungguhnya mulai digunakan. Bagi TD Cowen, kondisi ini menunjukkan bahwa adopsi Horizontal AI berpotensi mengejar ketertinggalan seiring perusahaan naik kelas dari AI berbasis prompt manusia menuju autonomous AI.
Dampak ke Vendor Software: Monetisasi Berpotensi Menguat
Dalam analisanya, TD Cowen menilai data survei justru memperlihatkan posisi yang cukup menguntungkan bagi pemain incumbent di pasar software. Di sisi Productivity Suite, vendor lama punya keunggulan karena mudah menyematkan fitur GenAI ke alur kerja harian pengguna. Sementara di Enterprise SaaS, para pemain besar bisa menggabungkan kemampuan agentic AI dengan dataset penting dan proses bisnis inti yang tersimpan di sistem operasional.
Bagi investor dan pelaku industri, sinyal utamanya adalah monetisasi AI kemungkinan belum mencapai puncaknya. TD Cowen melihat bahwa meski adopsi AI sebelumnya sempat lambat, laju tersebut bisa mulai berakselerasi seiring perusahaan naik level dalam kematangan AI dan mulai mengadopsi otomasi berbasis agen secara lebih luas.
Sumber Anggaran AI dan Risiko untuk SaaS SMB
Survei ini juga memberi petunjuk soal bagaimana perusahaan membiayai investasi AI. Pemangkasan headcount memang disebut sebagai salah satu sumber dana, tetapi posisinya berada di bawah peningkatan produktivitas, anggaran inovasi AI khusus, dan penghematan biaya lainnya. Ini menunjukkan bahwa pendanaan AI saat ini masih banyak berasal dari efisiensi dan realokasi anggaran, bukan semata-mata dari pengurangan tenaga kerja.
Namun, TD Cowen juga menyoroti dua faktor penyeimbang yang perlu diwaspadai. Pertama, vendor AI baru disebut lebih kompetitif di segmen small and medium-sized business (SMB) dan mid-market, sehingga bisa menekan SaaS SMB. Kedua, jika headcount cuts makin besar seiring adopsi autonomous AI, model lisensi berbasis seat dapat mengalami tekanan. Karena itu, incumbent kemungkinan perlu beralih ke skema harga yang lebih fleksibel, seperti consumption-based, usage-based, atau outcome-based pricing.
Apa Artinya bagi Pasar Enterprise SaaS dan Investor
Secara keseluruhan, riset TD Cowen mengarah pada satu kesimpulan: pasar AI enterprise masih berada di tahap awal monetisasi, tetapi jalur pertumbuhannya terlihat makin jelas. Dengan 75% responden melaporkan ROI positif dan mayoritas pengguna menyatakan kemungkinan untuk meningkatkan langganan suite mereka dalam 12–18 bulan ke depan, vendor software punya landasan yang kuat untuk pertumbuhan lanjutan.
Bagi pelaku bisnis, temuan ini penting karena menandakan AI bukan lagi fitur tambahan, melainkan bagian dari strategi operasional dan efisiensi. Bagi investor, survei ini memberi sinyal bahwa prospek belanja AI di perusahaan bisa lebih kuat dari yang tercermin di valuasi saat ini, terutama jika autonomous AI benar-benar mulai diadopsi dalam skala yang lebih besar.