Finance & Investment
Semester I/2026 Hanya 1 IPO di BEI, Ini Penyebab Melambatnya Pasar Penawaran Saham

Ringkasan Artikel
- Pasar IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) melambat tajam pada semester I/2026, dengan hanya satu emiten baru yang melantai
- BEI menegaskan perlambatan ini dipengaruhi ketidakpastian global dan seleksi internal yang kini lebih ketat demi menjaga kualitas emiten.
Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami perlambatan pada semester I/2026. Sepanjang paruh pertama tahun ini, hanya satu perusahaan yang berhasil mencatatkan sahamnya di bursa, yakni PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) pada April 2026 dengan dana hasil IPO sebesar Rp302 miliar.
Jauh di bawah capaian tahun lalu
Kinerja semester I/2026 ini kontras dengan periode yang sama pada 2025. Saat itu, BEI mencatat 14 perusahaan melakukan IPO dengan total dana yang dihimpun sekitar Rp7 triliun. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pasar penawaran saham perdana sedang memasuki fase yang lebih hati-hati, baik dari sisi emiten maupun investor.
Ketidakpastian global menahan langkah calon emiten
Senior Advisor Listing Directorate BEI, Saptono Adi Junarso, mengatakan perlambatan IPO tidak bisa hanya dibaca sebagai turunnya minat perusahaan untuk masuk bursa. Menurut dia, ketegangan geopolitik global yang masih berlarut mendorong konsolidasi di pasar modal dan membuat banyak calon emiten memilih menunggu kondisi yang lebih stabil sebelum melantai. Dalam situasi seperti ini, perusahaan cenderung menunda pencatatan agar bisa memperoleh pricing yang optimal dan memanfaatkan momentum pasar yang lebih mendukung.
BEI memperketat seleksi emiten
Selain faktor eksternal, BEI juga memperketat proses seleksi bagi perusahaan yang ingin IPO. Kebijakan ini diperkuat melalui perubahan Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat, yang berlaku sejak 31 Maret 2026. Saptono menyebut ada lebih dari 100 perusahaan yang sudah masuk tahap peninjauan sejak tahun lalu, tetapi banyak di antaranya diminta melakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum bisa melantai.
Kualitas emiten jadi prioritas, bukan sekadar jumlah
BEI tampaknya sengaja tidak mengejar angka IPO semata. Saptono menjelaskan, hampir separuh lebih dari calon emiten yang masuk proses peninjauan diminta memperbaiki sejumlah aspek, dan proses itu bisa memakan waktu satu hingga dua tahun. Pendekatan ini menegaskan bahwa bursa ingin memastikan perusahaan yang masuk ke pasar modal memiliki kesiapan yang lebih baik, baik dari sisi tata kelola, struktur bisnis, maupun kualitas penawaran kepada investor.
Masih ada delapan perusahaan dalam pipeline
Meski semester I/2026 terbilang sepi, BEI masih memiliki delapan perusahaan dalam pipeline IPO hingga 26 Juni 2026. Dari jumlah tersebut, enam calon emiten beraset besar dengan aset di atas Rp250 miliar, satu perusahaan beraset menengah dengan aset Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan satu perusahaan beraset kecil di bawah Rp50 miliar. Secara sektoral, empat perusahaan berasal dari sektor kesehatan, dua dari konsumer nonsiklikal, satu dari konsumer siklikal, dan satu dari infrastruktur. Kehadiran pipeline ini memberi sinyal bahwa pasar IPO belum tertutup, namun pemulihan volumenya sangat bergantung pada perbaikan kondisi eksternal serta kesiapan emiten memenuhi standar BEI yang lebih ketat.