Economy
Pertamina Naikkan Harga Pertamina Dex ke Rp27.900 per Liter, Diesel Premium Mendekati Rekor

Ringkasan Artikel
- Pertamina menaikkan harga sejumlah BBM non-subsidi, terutama diesel premium Pertamina Dex yang naik 16,7% menjadi Rp27.900 per liter
- Kebijakan ini menjaga margin bisnis, tetapi berpotensi mendorong pergeseran konsumsi ke BBM subsidi dan menambah tekanan fiskal.
Pertamina kembali menyesuaikan harga bahan bakar minyak non-subsidi per awal pekan ini, dengan kenaikan paling tajam terjadi pada produk diesel premium Pertamina Dex. Harga Pertamina Dex naik 16,7% menjadi Rp27.900 per liter, level tertinggi sejak merek tersebut diluncurkan. Di saat yang sama, harga BBM subsidi tidak berubah, menegaskan strategi Pertamina untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan keterjangkauan publik.
Kenaikan tajam di segmen diesel premium
Berdasarkan daftar harga baru yang dirilis unit penjualan dan distribusi Pertamina Patra Niaga, produk diesel menengah Dexlite juga ikut naik signifikan dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter. Dengan demikian, tekanan harga bukan hanya terjadi di kelas premium, tetapi juga merambat ke segmen diesel yang lebih luas. Kenaikan ini menunjukkan bahwa biaya energi untuk konsumen non-subsidi, khususnya pengguna kendaraan diesel dan pelaku usaha logistik, semakin tinggi.
Gasoline non-subsidi naik terbatas, subsidi tetap dipertahankan
Di lini bensin, Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp19.900 per liter dari Rp19.400. Namun, Pertamax tetap di Rp12.300 per liter dan Pertamax Green bertahan di Rp12.900 per liter. Untuk BBM subsidi, Pertalite masih dipatok Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter. Tidak adanya perubahan pada produk subsidi memperlihatkan bahwa Pertamina masih menahan harga di segmen yang paling sensitif secara sosial dan fiskal.
Pertamina menimbang bisnis, daya beli, dan stabilitas
Corporate Secretary Pertamina, Roberth Dumatubun, mengatakan perusahaan tidak semata-mata melihat faktor komersial saat menentukan harga. Menurut dia, Pertamina juga mempertimbangkan kondisi sosial saat ini, daya beli pengguna BBM non-subsidi, dan stabilitas nasional. Sebagai BUMN energi, Pertamina disebut harus menjaga harga tetap kompetitif dibandingkan penyedia bahan bakar lain, sambil tetap memperhatikan kepentingan publik.
Risiko pasar: migrasi ke BBM subsidi dan tekanan fiskal
Kenaikan harga BBM kelas menengah dan premium berpotensi mengubah perilaku konsumen. Ekonom sebelumnya telah memperingatkan bahwa ketika harga BBM non-subsidi naik, sebagian pengguna bisa beralih ke BBM subsidi seperti Pertalite, yang pada akhirnya menambah tekanan pada anggaran negara. Dari sisi bisnis, kebijakan ini membantu Pertamina menyesuaikan harga dengan dinamika pasar, tetapi dari sisi makro, pemerintah perlu mengawasi dampaknya terhadap konsumsi, inflasi, dan beban subsidi energi.