Economy
OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga Meski Ketidakpastian Global Berlanjut

Ringkasan Artikel
- OJK melaporkan stabilitas sektor jasa keuangan pada RDKB April 2026 meski tekanan global berlanjut
- Investor asing mencatat net buy di pasar SBN sebesar Rp8,80 triliun pada April
- Pasar modal memperlihatkan akselerasi investor baru dan peningkatan AUM reksa dana.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kinerja sektor jasa keuangan Indonesia terjaga pada Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) yang membahas data hingga 30 April 2026. Dalam siaran pers tanggal 5 Mei 2026, OJK menilai meski ketidakpastian kondisi global masih berlangsung, indikator utama seperti aliran modal, nilai aset yang dikelola, dan partisipasi investor domestik memperlihatkan daya tahan.
Aliran Modal dan Kondisi Pasar Surat Utang
OJK melaporkan investor asing mencatat net buy di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8,80 triliun sepanjang April 2026, meskipun secara year-to-date (ytd) investor asing masih tercatat net sell Rp16,29 triliun. Indeks obligasi Indonesia (Indonesia Composite Bond Index/ICBI) ditutup pada 436,38 pada akhir April, menguat 0,74% month-to-month, sementara yield SBN rata-rata mengalami perubahan tipis di tengah persepsi risiko global.
Kinerja Pasar Modal dan Penggalangan Dana Korporasi
Pasar modal terus berfungsi sebagai sumber pembiayaan jangka panjang. Hingga April 2026, korporasi berhasil menghimpun Rp56,35 triliun melalui pasar modal—terdiri atas 1 IPO, 1 Penawaran Umum Terbatas (PUT), enam penawaran efek utang/sukuk, dan 44 penawaran berkelanjutan EBUS. OJK juga mencatat pipeline 71 rencana penawaran dengan nilai indikatif Rp49,84 triliun. Bursa Efek Indonesia (BEI) serta Self-Regulatory Organizations (SRO) tercatat aktif mendukung aktivitas ini.
Pertumbuhan Investor Ritel dan Industri Pengelola Investasi
Jumlah investor pasar modal domestik tumbuh signifikan: ada penambahan 1,74 juta investor baru pada April sehingga total mencapai 26,49 juta investor secara ytd (bertumbuh 30,06%). Industri pengelolaan investasi mencatat Asset Under Management (AUM) sebesar Rp1.072,64 triliun per 29 April 2026, naik 1,53% month-to-month dan 2,87% ytd. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp711,89 triliun, meningkat 2,32% mtm dan 5,41% ytd.
Inovasi Pendanaan dan Bursa Karbon
OJK melaporkan perkembangan Securities Crowdfunding (SCF) dengan 24 efek baru dan tujuh penerbit baru pada April, menghimpun dana Rp36,18 miliar; total kumulatif SCF mencapai Rp1,93 triliun. Di sisi lain, sejak peluncuran Bursa Karbon pada 26 September 2023 hingga 30 April 2026 tercatat 155 pengguna jasa terdaftar, mencerminkan peran pasar karbon dalam agenda keuangan berkelanjutan.
Kebijakan Pengawasan dan Program Literasi
Dalam pertemuan, OJK menegaskan pengawasan dan kesiapan mitigasi risiko melalui koordinasi dengan Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta pelaku pasar seperti perusahaan sekuritas dan manajer investasi. OJK juga memaparkan capaian program edukasi GENCARKAN yang sejak 1 Januari hingga 24 April 2026 menyelenggarakan 12.157 program dan menjangkau 53,7 juta peserta di seluruh Indonesia, serta kegiatan literasi bersama BEI dan SRO di Serang pada April 2026.
Dampak dan Tantangan ke Depan
Meski indikator domestik menunjukkan ketahanan, OJK mengingatkan risiko eksternal dari perlambatan permintaan global, khususnya dari Tiongkok, yang dapat memengaruhi aliran modal dan kinerja ekspor. OJK menekankan pentingnya sinergi antara regulator, termasuk OJK, Bank Indonesia, dan pelaku industri seperti perbankan nasional dan manajer investasi, untuk menjaga stabilitas dan memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan.