Economy
IMF: Pertumbuhan Asia Pasifik Rentan Melambat akibat Lonjakan Harga Energi

Ringkasan Artikel
- IMF melihat kenaikan harga energi sebagai risiko utama bagi ekonomi Asia Pasifik pada 2026
- Tekanan inflasi, melemahnya neraca eksternal, dan pengetatan kondisi keuangan membuat ruang kebijakan di kawasan ini semakin sempit.
JAKARTA, KOMPAS — Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik akan melambat pada 2026 seiring melonjaknya harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Dalam pandangan IMF, gejolak energi bukan hanya menekan biaya produksi dan konsumsi, tetapi juga dapat mengurangi ruang gerak pembuat kebijakan di kawasan.
Proyeksi pertumbuhan Asia dan Pasifik turun dibanding 2025
IMF memproyeksikan ekonomi Asia tumbuh 4,4 persen pada 2026 dan 4,2 persen pada 2027, lebih rendah dibandingkan proyeksi 5 persen pada 2025. Untuk kawasan Pasifik, pertumbuhan juga diperkirakan menurun dari 3,3 persen pada 2025 menjadi 2,8 persen pada 2026 dan 2,4 persen pada 2027. Angka-angka ini menunjukkan bahwa momentum pemulihan di kawasan masih ada, tetapi lebih rentan terhadap guncangan eksternal.
Harga energi berpotensi menekan inflasi dan stabilitas eksternal
Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, Krishna Srinivasan, mengatakan banyak negara Asia masih mencatat kinerja kuat menjelang akhir 2025, ditopang ekspor, konsumsi domestik, dan kebijakan keuangan yang akomodatif. Namun, menurut dia, gejolak energi akan berdampak negatif karena mendorong inflasi, melemahkan neraca eksternal, memperketat kondisi keuangan, dan mempersempit ruang kebijakan. Bagi dunia usaha, situasi ini berarti biaya input dapat naik sementara permintaan berisiko melemah jika daya beli ikut tergerus.
Moneter dipandang jadi penyangga jangka pendek
IMF menilai kebijakan moneter dalam jangka pendek dapat berperan sebagai penyangga untuk meredam dampak kenaikan harga energi. Meski demikian, tekanan yang muncul dari sisi inflasi dan pembiayaan membuat dukungan kebijakan fiskal dan moneter sama-sama dibutuhkan. Artinya, pemerintah dan bank sentral di kawasan perlu menjaga keseimbangan antara meredam inflasi, mempertahankan pertumbuhan, dan melindungi stabilitas pasar.
Implikasi bagi pelaku usaha di Asia Pasifik
Bagi pelaku bisnis, proyeksi IMF ini menjadi sinyal bahwa risiko biaya masih tinggi pada 2026, terutama bagi sektor yang bergantung pada energi sebagai komponen utama operasional. Perusahaan juga perlu mencermati dampak lanjutan berupa pengetatan likuiditas, perubahan harga jual, dan potensi pelemahan permintaan di pasar domestik maupun ekspor. Di tengah ketidakpastian itu, perusahaan dengan struktur biaya efisien dan fleksibilitas rantai pasok berpeluang lebih tahan menghadapi tekanan baru.