Economy
IHSG Bergejolak Pasca Pengangkatan Deputi Gubernur BI: Sektor Industri Tertekan

Ringkasan Artikel
- IHSG menunjukkan volatilitas pada 27 Januari 2026 setelah DPR mengesahkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia
- Sektor industri mencatat koreksi terdalam, sementara saham teknologi dan energi menahan penurunan indeks
- Sentimen global dari pertemuan The Fed dan kekhawatiran soal independensi bank sentral menambah tekanan pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan gejolak pada perdagangan Selasa, 27 Januari 2026, setelah DPR menyetujui pengangkatan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Penunjukan yang menggeser figur karier di bank sentral itu memicu kekhawatiran pasar terhadap independensi kebijakan moneter, mendorong aksi jual terutama pada saham-saham sektor industri.
Pergerakan Pasar dan Sektor
Pada penutupan 27 Januari 2026 IHSG tercatat menutup sesi dengan penguatan tipis 0,05% ke level 8.980,23, namun pergerakan intraday menunjukkan volatilitas signifikan. Enam sektor berakhir melemah, dengan sektor industri mencatat koreksi terdalam sekitar 3,45% — menjadi beban utama indeks. Sebaliknya, sektor teknologi memimpin penguatan sektoral dengan kenaikan sekitar 2,14%, didorong lonjakan sentimen pada emiten-emiten teknologi.
Emiten yang bergerak signifikan pada hari itu termasuk LAJU yang menjadi top gainer, serta STAR dan INAI yang juga mencatat kenaikan kuat. Di sisi lain, RMKO, INTD, dan SSTM termasuk dalam daftar top loser yang mengalami penurunan tajam.
Faktor Domestik: Penunjukan Deputi Gubernur BI
Penunjukan Thomas Djiwandono—yang memiliki kedekatan politik—memancing reaksi pelaku pasar dan analis. Kekhawatiran utama adalah potensi intervensi politik terhadap kebijakan moneter BI, terutama dalam konteks penentuan suku bunga dan langkah stabilisasi nilai tukar. Pelaku pasar memandang perubahan kepemimpinan di tingkat eksekutif bank sentral sebagai risiko yang dapat mengubah ekspektasi inflasi dan kebijakan likuiditas.
Pengaruh Global: The Fed dan Gejolak Kebijakan AS
Dari luar negeri, pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 27–28 Januari 2026 menjadi katalis penting. Ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga serta diskusi publik tentang independensi bank sentral AS menambah ketidakpastian pasar global. Isu mengenai kemungkinan pergantian pimpinan The Fed oleh pemerintahan AS menambah tekanan pada aset berisiko, memengaruhi aliran modal ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Likuiditas dan Aktivitas Perdagangan
Frekuensi perdagangan dan likuiditas pasar tercatat tinggi pada hari itu. Volume perdagangan mencapai puluhan miliar saham dengan nilai transaksi harian di kisaran Rp27,5 triliun, menandakan aksi jual-beli besar oleh investor domestik dan asing. Posisi rupiah relatif stabil terhadap dolar AS di kisaran Rp16.700–16.800 per dolar pada perdagangan hari tersebut, namun gerak rupiah sulit memulihkan sentimen akibat tekanan politik terhadap kebijakan moneter.
Dampak untuk Pengambil Keputusan dan Investor
Bagi pengambil kebijakan dan manajer investasi, perkembangan ini menegaskan pentingnya komunikasi kebijakan yang jelas dari Bank Indonesia dan otoritas terkait untuk meredam kekhawatiran pasar. Investor institusional diimbau melakukan penyesuaian alokasi aset dan mengawasi indikator makro seperti inflasi inti, neraca pembayaran, serta keputusan The Fed yang dapat memengaruhi arus modal.
Pemantauan intensif terhadap laporan korporasi emiten sektor industri dan teknologi juga diperlukan untuk menilai potensi risiko lanjutan terhadap pendapatan perusahaan dan valuasi pasar.