Finance & Investment
IHSG Anjlok, Trader Mulai Serok Saham Blue Chip

Ringkasan Artikel
- IHSG turun signifikan memicu aksi jual luas, namun trader mulai melakukan akumulasi pada saham blue chip
- Perusahaan perbankan seperti BBCA, BMRI, dan BBRI menjadi fokus pembelian karena valuasi dianggap menarik
- Volatilitas tetap tinggi sehingga investor disarankan selektif dan perhatikan likuiditas serta sentimen global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada sesi terakhir, memicu aksi jual dari investor ritel dan institusi. Kondisi tersebut membuat sejumlah trader dan pelaku pasar mulai melakukan pembelian selektif (serok) pada saham-saham blue chip yang dianggap memiliki fundamental kuat. Pergerakan ini menandakan perpindahan dari fase realisasi keuntungan menuju akumulasi bagi pelaku pasar yang mencari titik masuk dengan risiko terbatas.
Penurunan IHSG dan Pemicu Teknis
Penurunan IHSG terjadi di tengah sentimen negatif global dan domestik yang menekan likuiditas pasar. Faktor eksternal termasuk koreksi pasar saham global dan penguatan dolar AS, sementara faktor domestik berupa tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar memperparah pelemahan. Secara teknis, terobosan level support kunci mendorong otomatisasi jual pada beberapa saham, memicu penurunan berantai.
Perusahaan yang paling terpukul adalah bank-bank besar dan emiten konsumer dengan bobot tinggi di indeks, antara lain Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Penurunan harga saham-saham tersebut menurunkan kapitalisasi pasar sehingga menjadi perhatian manajer investasi yang memonitor eksposur sektor perbankan.
Aksi Serok Trader dan Target Saham
Meski tekanan jual masih berlangsung, sejumlah trader mulai melakukan akumulasi pada saham-saham yang turun paling dalam. Nama-nama yang masuk radar pembelian termasuk BBCA, BMRI, BBRI, serta saham konsumer dan energi yang likuid seperti Astra International dan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). Alasan serok antara lain valuasi yang lebih murah, prospek pendapatan stabil, dan peran mereka dalam penopang IHSG.
Trader jangka pendek melaporkan peningkatan order beli pada level-level teknikal tertentu, sementara investor institusional terlihat menambah posisi secara bertahap untuk memanfaatkan volatility. Namun, strategi ini diiringi manajemen risiko ketat karena kemungkinan momentum penurunan masih terbuka jika sentimen memburuk.
Dampak Pada Emiten dan Likuiditas Pasar
Tekanan harga mempengaruhi neraca beberapa emiten melalui penurunan nilai pasar dan potensi kenaikan biaya pendanaan jika kondisi berlanjut. Bank-bank besar yang disebutkan mengalami tekanan likuiditas relatif pada saham, meski fundamental kredit dan likuiditas operasional belum menunjukkan penurunan tajam berdasarkan laporan terakhir. Emiten sektor energi dan bahan baku menunjukkan korelasi harga komoditas yang menambah ketidakpastian.
Likuiditas pasar tercatat mengalami penurunan sementara saat aksi jual berlangsung, dengan nilai transaksi harian yang lebih rendah dibanding minggu sebelumnya. Kondisi ini meningkatkan spread dan membuat eksekusi order besar menjadi lebih mahal bagi manajer modal besar.
Imbauan Untuk Investor Profesional
Pakar pasar modal mengimbau investor profesional dan pengambil keputusan untuk tetap selektif, memprioritaskan saham dengan neraca sehat, arus kas stabil, dan posisi likuiditas yang kuat. Diversifikasi dan penggunaan instrumen lindung nilai disarankan untuk meredam risiko volatilitas tajam. Selain itu, pemantauan terhadap perkembangan global seperti kebijakan moneter AS dan risiko geopolitik perlu menjadi bagian dari strategi alokasi aset.
Dalam jangka menengah, bila kondisi eksternal membaik, akumulasi bertahap pada saham-saham blue chip berpotensi memberi pengembalian yang menarik; namun dalam jangka pendek, kehati-hatian tetap menjadi kata kunci.