Finance & Investment
Harga Emas Perhiasan Stabil Pada Sabtu 7 Februari 2026, Pedagang Catat Permintaan Terkendali

Ringkasan Artikel
- Harga emas perhiasan terpantau stabil pada Sabtu, 7 Februari 2026
- Data dari Raja Emas Indonesia, Laku Emas (CMK Group), dan Hartadinata Abadi menunjukkan fluktuasi tipis antar-kadar
- Faktor eksternal seperti nilai tukar dan kebijakan bank sentral tetap menjadi pemicu utama pergerakan harga.
Harga emas perhiasan di pasar domestik tercatat relatif stabil pada Sabtu, 7 Februari 2026, menurut data yang dihimpun dari beberapa pedagang besar termasuk Raja Emas Indonesia, Laku Emas (CMK Group), dan Hartadinata Abadi. Stabilitas ini kontras dengan dinamika pasar logam mulia global yang tetap dipengaruhi oleh fluktuasi dolar AS dan kebijakan moneter bank sentral di beberapa negara.
Rincian Harga dan Perbandingan Antar Pedagang
Berdasarkan catatan Raja Emas Indonesia, harga emas perhiasan 24 karat dipatok Rp 2.320.000 per gram, sedangkan 22 karat berada di level Rp 1.950.000 per gram. Harga untuk kadar lain, seperti 18 karat dan 14 karat, berada masing-masing pada Rp 1.597.000 per gram dan Rp 1.242.000 per gram. Laku Emas dan Hartadinata Abadi melaporkan tren yang sejalan, dengan perbedaan margin jual yang kecil antar-toko.
Para pedagang menyebutkan bahwa perbedaan harga antar-penjual lebih dipengaruhi oleh kebijakan margin dan layanan purna jual—misalnya buyback—daripada perubahan mendadak di pasar spot internasional.
Faktor Penggerak: Nilai Tukar, Permintaan Perhiasan, dan Kebijakan Bank Sentral
Harga lokal dipengaruhi oleh tiga faktor utama: kurs rupiah terhadap dolar AS, permintaan domestik dari industri perhiasan serta pembelian investor, dan arah kebijakan bank sentral internasional. Fluktuasi dolar menekan harga jika mata uang AS menguat, sementara permintaan perhiasan musiman dapat mengangkat harga meski hanya bersifat sementara.
Sejumlah analis pasar emas di Jakarta menilai bahwa kebijakan suku bunga acuan di Amerika Serikat dan Eropa masih menjadi variabel kunci yang harus dipantau. Perubahan ekspektasi inflasi global juga berpotensi memicu koreksi harga emas batangan dan perhiasan.
Dampak bagi Investor dan Ritel Emas
Bagi investor ritel, stabilitas harga perhiasan memberi ruang untuk strategi beli bertahap (dollar cost averaging) atau menunggu momentum jika menargetkan kenaikan jangka pendek. Bagi jaringan ritel seperti Raja Emas Indonesia, Laku Emas (CMK Group), dan Hartadinata Abadi, stabilitas ini memungkinkan perencanaan stok dan promosi yang lebih terukur menjelang musim pernikahan dan hari raya.
Pedagang besar juga mencatat peningkatan permintaan pada segmen kalung dan gelang 22–24 karat untuk pasar upah menengah atas, sementara permintaan 14–18 karat tetap dominan di segmen perhiasan sehari-hari.
Proyeksi dan Rekomendasi
Analis pasar menyarankan pelaku usaha dan investor untuk terus memantau rilis data makroekonomi global, laporan inflasi, dan pernyataan bank sentral yang dapat memengaruhi arus modal serta nilai tukar. Untuk jangka pendek, prediksi sejumlah pelaku pasar adalah pergerakan harga akan bergerak dalam rentang sempit kecuali terjadi kejutan geopolitik atau perubahan tajam pada kebijakan moneter internasional.
Untuk keputusan korporasi, perusahaan perhiasan dianjurkan mempertahankan likuiditas dan kebijakan buyback yang jelas untuk menjaga kepercayaan konsumen. Sementara investor yang mencari lindung nilai diharapkan menimbang proporsi emas perhiasan dalam portofolio dibandingkan instrumen emas batangan yang likuiditasnya lebih tinggi.