Business Strategy
Ferry Irwandi di SBBP Batch 8: Aset Paling Berharga di Bisnis Anda Tidak Tercatat di Neraca

Ringkasan Artikel
- Ferry Irwandi mengingatkan pengusaha bahwa aset paling berharga bisnis bukan yang tercatat di neraca, melainkan manusianya
- Karyawan seharusnya diperlakukan sebagai modal yang dirawat, bukan sekadar biaya operasional
- Yang dibeli dari karyawan terbaik bukan jam kerjanya, tapi kemampuannnya.
Jakarta, 17 Mei 2026 — “Coba buka neraca usaha Anda. Apa aset paling berharga di sana? Sekarang tutup buku itu. Karena aset paling berharga di bisnis Anda, kemungkinan besar tidak tercatat di sana.”
Pertanyaan itu dilemparkan oleh Ferry Irwandi, ekonom dan pendiri Malaka Project, ke lebih dari 70 pebisnis yang hadir di Sevenpreneur Business Blueprint Program (SBBP) Batch 8 powered by MIFX, AONE Hotel, Jakarta Pusat. Ruangan terdiam beberapa detik — dan dari titik itulah Ferry membawa peserta menyelami satu topik yang menurutnya paling sering luput dari perhatian pengusaha Indonesia: Human Capital, atau modal manusia di dalam bisnis.
Aset yang Sering Tidak Disadari
Dalam sesinya, Ferry mengajak para pebisnis untuk merenungkan kembali ke mana sebenarnya mereka mengalokasikan perhatian dan modal. Banyak pengusaha, menurutnya, terlalu fokus pada aset yang bisa disentuh — tanah, gedung, mesin — dan terlalu sedikit memikirkan aset yang justru paling menentukan masa depan bisnis: orang-orang di dalamnya.
“Human Capital adalah satu-satunya aset yang setiap sore pulang ke rumah, dan setiap pagi bisa memilih untuk kembali — atau tidak,” ujarnya.
Pernyataan itu disambut tawa kecil sekaligus anggukan dari ratusan peserta yang sebagian besar adalah pemilik usaha.
Mengubah Cara Pandang terhadap Manusia di Bisnis
Tanpa membongkar seluruh kerangka pikirnya, Ferry menyinggung satu pergeseran cara pandang yang menurutnya membedakan bisnis yang bertahan lama dengan yang tidak: berhenti memperlakukan karyawan semata sebagai biaya operasional, dan mulai memperlakukan mereka sebagai modal yang harus dirawat, dikembangkan, dan ditahan.
“Yang Anda belikan dari karyawan terbaik Anda bukanlah jam kerjanya, melainkan otaknya,” tegas Ferry
Tetap Relevan, Tapi Sering Diabaikan
Sesi Ferry berlangsung interaktif. Banyak peserta yang mengaku baru menyadari betapa banyak keputusan bisnis mereka selama ini didorong oleh bias terhadap aset fisik, dan betapa kecil porsi anggaran yang mereka alokasikan untuk membangun tim. Beberapa peserta dari sektor retail, F&B, dan jasa profesional bahkan menyebut sesi ini sebagai “wake up call” yang sudah lama mereka tunggu.
Ferry menutup sesinya dengan satu pesan yang menggantung di kepala peserta: “Aset paling besar di bisnis Anda tidak akan pernah ada di neraca — tapi justru di sanalah pertumbuhan Anda hidup.”
Selebihnya, peserta SBBP Batch 8 mendapatkan akses ke kerangka lengkap, playbook, dan strategi praktis langsung dari Ferry sebagai bagian dari kurikulum eksklusif program.