AI & Technology
Deezer: 44% Lagu Baru Diunggah Harian Kini Dihasilkan AI, Tekanan pada Hak Cipta dan Royalti

Ringkasan Artikel
- Deezer melaporkan hampir separuh lagu yang diunggah setiap hari dibuat atau dibantu AI
- Lonjakan konten AI memicu kekhawatiran soal hak cipta, verifikasi identitas kreator, dan distribusi royalti
- Label, regulator, dan platform streaming kini berada di titik keputusan untuk mengatur alur penerimaan dan monetisasi karya berbasis AI.
Deezer, platform streaming musik asal Prancis, mengungkap bahwa sekitar 44% dari lagu yang diunggah ke layanannya setiap hari pada April 2026 dihasilkan atau dibantu oleh teknologi kecerdasan buatan. Pernyataan ini menaikkan sorotan terhadap dampak cepat teknologi AI-generated music terhadap ekosistem musik, termasuk tantangan verifikasi kreator, klaim hak cipta, dan mekanisme pembagian royalti yang selama ini mengandalkan identitas manusia sebagai pemegang karya.
Lonjakan Konten AI dan Implikasinya
Angka yang disampaikan Deezer menandai pergeseran volume konten di platform digital: hampir separuh unggahan harian kini memuat elemen AI. Bagi perusahaan, tren ini berarti kebutuhan mendesak untuk memperbarui kebijakan moderasi dan label metadata agar pendengar dan pemangku kepentingan dapat membedakan antara karya manusia dan yang dihasilkan mesin. Bagi artis dan label tradisional seperti Universal Music Group, Sony Music, dan Warner Music Group, ini menjadi tantangan distribusi dan perlindungan aset intelektual.
Selain itu, model bisnis streaming yang selama ini mengandalkan pelaporan performa karya terhadap pemilik hak harus menyesuaikan diri jika pencipta sebenarnya adalah algoritma atau kolaborasi manusia-mesin. Pertanyaan kunci muncul: siapa yang berhak menerima royalti, dan bagaimana membuktikan kontribusi kreator manusia bila sebuah trek dihasilkan sebagian atau seluruhnya oleh algoritma?
Verifikasi, Moderasi, dan Transparansi Metadata
Deezer mengatakan platform membutuhkan sistem metadata yang lebih ketat untuk menandai konten AI. Langkah seperti verifikasi identitas pengunggah, penandaan eksplisit sebagai "AI-generated", dan audit AI untuk menjamin tidak adanya pelanggaran materi berhak cipta akan menjadi bagian dari proses. Tanpa standar metadata yang konsisten lintas platform — termasuk Spotify, Apple Music, dan YouTube Music — risiko kebocoran royalti dan sengketa hak cipta akan meningkat.
Regulator di beberapa yurisdiksi juga sedang meninjau kebutuhan aturan baru. Di Eropa dan AS, pembuat kebijakan diperkirakan akan menuntut transparansi lebih besar dari platform streaming terkait asal konten dan mekanisme pembagian pendapatan.
Dampak Pada Artis, Label, dan Model Bisnis
Bagi artis independen, AI bisa berarti cara baru untuk bereksperimen dan menurunkan biaya produksi. Namun bagi musisi profesional dan label besar, proliferasi konten AI menimbulkan risiko penurunan nilai karya asli dan meningkatnya persaingan non-tradisional di katalog streaming. Label seperti Concord atau label independen diperkirakan akan merevisi kontrak bagaimana penggunaan AI diatur dalam perjanjian penerbitan dan rekaman.
Secara bisnis, platform seperti Deezer harus menyeimbangkan pertumbuhan katalog dengan kepercayaan pengguna dan pemangku kepentingan. Jika tidak, ada risiko penurunan loyalitas pengguna serta eksposure hukum atas pelanggaran hak cipta tak terdeteksi.
Langkah Selanjutnya dan Rekomendasi Industri
Industri musik perlu menetapkan standar bersama: definisi AI-generated, kewajiban pelabelan, dan protokol pembagian royalti. Perusahaan teknologi audio, lembaga kolektif royalti, dan regulator harus duduk bersama untuk merancang mekanisme verifikasi yang dapat diandalkan dan dapat diintegrasikan ke platform distribusi digital.
Deezer, sebagai salah satu pemain global, kini berada di garis depan adaptasi kebijakan. Keputusan yang diambil dalam 6–12 bulan ke depan akan menentukan bagaimana pasar menyikapi lonjakan konten AI dan bagaimana nilai ekonomi karya musik dipertahankan di era kecerdasan buatan.