Finance & Investment
Bunga Kredit Masih Tinggi, Korporasi Makin Pilih Terbitkan Obligasi

Ringkasan Artikel
- Di tengah suku bunga kredit yang belum turun signifikan, perusahaan semakin agresif mencari dana lewat obligasi dan sukuk
- Data Pefindo menunjukkan penerbitan surat utang korporasi melonjak tajam hingga kuartal III-2025, sementara pertumbuhan kredit bank melambat.
JAKARTA, KOMPAS – Tren pendanaan korporasi di Indonesia mulai bergeser. Hingga kuartal III-2025, penerbitan obligasi korporasi naik tajam, sementara pertumbuhan kredit bank relatif lebih terbatas. Dalam kondisi suku bunga pinjaman yang masih tinggi dan kebijakan penyaluran kredit yang cenderung hati-hati, banyak perusahaan memilih pasar obligasi sebagai sumber dana yang dinilai lebih efisien.
Obligasi Dinilai Lebih Efisien Dibanding Kredit Bank
Pengamat perbankan sekaligus mantan Assistant Vice President BNI periode 2005–2009, Paul Sutaryono, menilai ada pergeseran cara korporasi menghimpun dana, terutama untuk kebutuhan modal kerja tambahan. Menurut dia, penerbitan obligasi atau surat utang kini lebih sering dipilih dibanding mengajukan pinjaman ke bank karena dianggap lebih efisien secara biaya. Faktor efisiensi inilah yang membuat pasar modal semakin menarik bagi perusahaan yang membutuhkan pembiayaan dalam jumlah besar.
Pefindo Catat Lonjakan Penerbitan Surat Utang Korporasi
Data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkuat gambaran tersebut. Hingga kuartal III-2025, total penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp 160,1 triliun, tumbuh 68,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, obligasi korporasi dan sukuk mendominasi dengan nilai Rp 159,1 triliun atau naik 70,37 persen secara tahunan. Dari sisi tujuan penggunaan dana, emiten paling banyak menerbitkan surat utang untuk modal kerja dan refinancing.
Modal Kerja dan Refinancing Jadi Pendorong Utama
Penerbitan surat utang untuk modal kerja tercatat melonjak 58,87 persen menjadi Rp 98,5 triliun. Sementara itu, kebutuhan refinancing tumbuh lebih cepat, yakni 111,7 persen menjadi Rp 48,7 triliun. Komposisinya juga berubah: porsi refinancing naik 5,9 poin persentase menjadi 30,4 persen, sedangkan modal kerja turun 3,9 poin persentase menjadi 61,5 persen. Ini menunjukkan korporasi bukan hanya mencari dana baru, tetapi juga melakukan pengelolaan ulang struktur utang secara aktif.
Pertumbuhan Kredit Bank Melambat
Di sisi lain, penyaluran kredit perbankan hingga Agustus 2025 tumbuh 7,56 persen secara tahunan menjadi Rp 8.075 triliun. Meski naik tipis dari pertumbuhan Juli 2025 yang sebesar 7,03 persen, laju ini masih jauh di bawah capaian Agustus 2024 yang mencapai 12,4 persen. Pada segmen korporasi, pertumbuhan kredit juga menurun menjadi 10,79 persen dari 16,51 persen pada periode yang sama tahun lalu. Perlambatan terlihat lebih jelas pada kredit modal kerja yang anjlok dari 10,75 persen menjadi 3,53 persen, sementara kredit investasi justru naik tipis dari 13,08 persen menjadi 13,86 persen.
BI Rate Turun, Namun Suku Bunga Kredit Belum Cukup Kompetitif
Paul Sutaryono menilai suku bunga kredit korporasi yang belum turun signifikan masih menjadi alasan utama perusahaan menjauh dari bank. Meski suku bunga acuan Bank Indonesia sudah turun ke 4,75 persen, transmisi ke bunga kredit dinilai belum cukup cepat. Ia juga menyoroti likuiditas perbankan yang kini cukup longgar setelah Kementerian Keuangan menempatkan Rp 200 triliun dari saldo anggaran lebih (SAL) ke Himbara, dan langkah itu akan diikuti penempatan dana ke bank pembangunan daerah (BPD). Dalam pandangannya, tren korporasi memilih obligasi kemungkinan masih bertahan hingga akhir tahun.
Implikasi bagi Korporasi dan Industri Perbankan
Kepala Riset LPPI, Trioksa Siahaan, melihat kondisi ini sebagai tanda pergeseran nyata jika data menunjukkan utang korporasi naik saat pertumbuhan kredit melambat. Ia menilai kebijakan kredit bank yang lebih konservatif ikut membuat persyaratan pinjaman terasa lebih sulit dipenuhi, sehingga penerbitan obligasi menjadi alternatif yang lebih menarik. Sementara itu, Pefindo melalui Kepala Divisi Pemeringkatan Sektor Jasa Keuangan, Danan Dito, menjelaskan bahwa perusahaan cenderung memilih pendanaan domestik dalam mata uang lokal. Bagi korporasi, kondisi ini berarti akses dana tetap terbuka, tetapi struktur pembiayaan semakin diarahkan pada instrumen pasar modal daripada pinjaman bank konvensional.