Economy
AS Buka Dua Investigasi Perdagangan Baru untuk Bangun Kembali Tekanan Tarif Trump

Ringkasan Artikel
- Pemerintah AS membuka dua penyelidikan di bawah Section 301 untuk menargetkan kelebihan kapasitas industri dan produk terkait kerja paksa
- USTR menyatakan penyelidikan dapat berujung pada tarif baru terhadap negara seperti China, Uni Eropa, India, Jepang dan Korea Selatan
- Langkah ini menandai upaya administrasi Trump membangun kembali ancaman tarif setelah Mahkamah Agung membatalkan sebagian rezim tarif sebelumnya.
WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat pada 11 Maret 2026 membuka dua penyelidikan perdagangan baru yang menargetkan excess industrial capacity di 16 mitra dagang utama dan impor yang diproduksi dengan kerja paksa dari lebih 60 negara, sebagai upaya membangun kembali tekanan tarif yang sempat runtuh setelah putusan Mahkamah Agung AS terhadap kebijakan tarif pemerintahan sebelumnya.
Pejabat Kantor Perwakilan Perdagangan AS (U.S. Trade Representative/USTR) — dipimpin Jamieson Greer — mengatakan penyelidikan di bawah Section 301 dari Trade Act 1974 itu bisa berujung pada pemberlakuan tarif baru terhadap negara-negara termasuk China, Uni Eropa, India, Jepang, Korea Selatan dan Meksiko pada musim panas ini. Langkah tersebut turut didorong koordinasi dengan Departemen Keuangan di bawah Menteri Scott Bessent.
Apa Yang Diumumkan Dan Targetnya
USTR mengumumkan dua garis besar penyelidikan: pertama, menilai apakah kelebihan kapasitas industri asing telah merusak industri AS; kedua, menyelidiki impor yang dibuat dengan praktik kerja paksa. Pemeriksaan Section 301 memungkinkan pemerintah AS merespons praktik perdagangan yang dianggap unfair dan memberikan landasan hukum untuk mengenakan tarif sektoral atau terapan terhadap produk tertentu.
Industri yang berpotensi terdampak termasuk otomotif, baja, elektronik dan tekstil. Importir besar, pelayaran kontainer, serta perusahaan manufaktur multinasional yang memasok komponen ke perusahaan AS—misalnya pemasok rantai pasok untuk pembuat mobil seperti Ford Motor dan General Motors serta produsen elektronik global—diperkirakan akan memantau perkembangan ini.
Alasan dan Konteks Kebijakan
Keputusan membuka penyelidikan muncul setelah Mahkamah Agung pada Februari membatalkan sebagian rezim tarif global pemerintahan sebelumnya yang diberlakukan lewat IEEPA (International Emergency Economic Powers Act). Administrasi mengatakan alat hukum bergeser dari IEEPA ke Section 301 karena putusan pengadilan itu, namun tujuan politik dan ekonomi tetap sama: menekan praktik perdagangan yang merugikan dan mempertahankan leverage negosiasi.
Pejabat senior, termasuk perwakilan dari Departemen Keuangan dan USTR, disebutkan akan mengadakan dialog tingkat tinggi dengan mitra seperti China menjelang pertemuan puncak yang direncanakan akhir Maret. Dalam praktiknya, penyelidikan Section 301 sering kali memakan waktu panjang, namun pihak AS memberi sinyal ingin mempercepat proses agar tarif baru dapat diumumkan dalam beberapa bulan mendatang.
Dampak Pada Perusahaan dan Rantai Pasok Global
Pengumuman ini meningkatkan ketidakpastian bagi importir AS, operator pelabuhan, dan perusahaan multinasional yang bergantung pada komponen impor. Perusahaan logistik, termasuk operator pelabuhan di Los Angeles–Long Beach, serta penyedia layanan 3PL dan freight forwarder, akan merasakan dampak jika tarif sektoral diberlakukan.
Bursa dan investor juga cenderung merespon volatilisasi bila sektor seperti otomotif dan semikonduktor terancam kena tarif. Perusahaan yang berbasis di Asia dan Eropa yang memiliki eksposur penjualan besar ke pasar AS — dari pembuat komponen otomotif hingga eksportir tekstil — bisa melihat marginnya tertekan jika biaya masuk pasar AS naik.
Respon Internasional dan Risiko Retaliasi
Negara-negara yang disebut sebagai target kemungkinan akan menanggapi melalui saluran diplomatik atau dengan langkah perdagangan balasan. Uni Eropa, China dan negara-negara Asia lainnya sebelumnya menegaskan keberatan mereka terhadap tarif AS yang luas, dan para analis memperingatkan risiko eskalasi trade war yang dapat mengganggu pemulihan perdagangan global.
Dengan agenda perdagangan serta pertemuan bilateral yang sedang berlangsung, keputusan akhir bisa dipengaruhi pertimbangan politik, perundingan, dan bukti teknis dari penyelidikan. Bagi pembuat kebijakan dan korporasi, fase investigasi ini penting untuk memetakan eksposur dan menyiapkan strategi mitigasi risiko rantai pasok.
Kesimpulan dan Langkah Berikutnya
Penyelidikan Section 301 yang diumumkan pada 11 Maret 2026 membuka jalan bagi kemungkinan tarif baru yang dapat diberlakukan pada musim panas. USTR dan Departemen Keuangan akan mengumpulkan bukti, mengadakan dengar pendapat, dan menetapkan rekomendasi sebelum keputusan akhir.
Bagi sektor bisnis, perhatian kini tertuju pada rincian produk yang disasar, jadwal pemeriksaan, dan respons dari mitra dagang seperti China dan Uni Eropa. Perusahaan multinasional—termasuk importir besar dan manufaktur—disarankan memantau pengumuman resmi USTR dan menilai dampak potensi tarif terhadap kontrak serta struktur biaya mereka.